Senin, 10 Desember 2012


Setitik Curahan Untuk Tuhan
Jeni Julianti
(Juara II Lomba Puisi)


Tuhan, 
Setetes harapan dengan tinta ini yang aku goreskan
Hanya ingin Rabb ku tau
Disini aku titipkan garisan curahan
Saat ku membuka mata
Masih ada harapan yang akan ku gapai
Terang yang akan ku genggam
Tuhan,
Bila kedua mata ini terpejam
Sesekali aku merindukan cahaya bulan dan bintang
Disini aku gelap
Bila tak ada sinar Mu yang amat gemerlap
Tuhan,
Andai Kau hembusan anggin maka Aku kan terbang
Andai kau jadikan kemarau maka aku kan berguguran
Tak mampu berdiri tanpa Mu Tuhan
Tak kuasa kehilanganmu Tuhan
Tak mudah menjadi buah, jika tak ada pohon dan akar
Begitupun aku yang kini kian menjadi bintang diantara lagit dan bulan
Biar terbangun aku semuanya telah mejadi matahari
Menari dengan angin meninggi dengan angan
Hanya separuh warna pelangi ku
Lenyap di telah abu – abu
Dahaga menghantarkan aku ke tepi
Yang berujung ombak kian mengerikan
Menggigil terselimuti jaring
Kian seperti ikan merasa ketakutan
Mungkin bisa saja bersembunyi di balik aku
Namun tak mudah berkhianat pada nama yang melekat
Sehelai kain putih
Ku buat penutup mahkotaku
Langkah demi langkah tak lebih dari matahari ke ibu jari
Dua mata yang terpana menyoroti dari ujung kaki
Hingga kain putihku
Mereka panggil simadu mengiurkan aku
Manis menurutnya
Tak lebih dari sekedar aku
Tak pernah seuntai kat berbaris makna
Meneteskan tinta diatas kertas putih
Tak berguris untuk menjadi madu
Tuhan,
Akan kah Kau hentikan detik ini
Sedangkan aku setengah redup setengah terang
Sedang hampa menusuk ku
Kabut pun enggan menyelimuti ku
Bairkan bentangan jarum jam ini terus berputar
Kini aku tak akan pernah takut tertiup angin
Tak akan musnah bila  masih ada akar
Tak akan bersedih bila masih menggenggam pelanggi
Tuhan ku…
Bila waktu masih senja
Aku ingin menghampiri detak jantung yang kian menepi
Aku ingin membasahi dedaunan, ranting dan pohon
Agar menjadi embun Mu yang menyejukkan
Meski matahari bukan lagi diriku
Tuhan kini aku datang menyambut Mu
Hantarkan aku ke bumi Mu nan megah
Khayal Kau jadikan mimpi nyata.

NADA NADA HATI
Indra Muhamad Seno
(Juara I Lomba Puisi)


Detik waktu kian menjauh dipelupuk mata
Dan cengkraman siang mulai berpendar, ikat erat haluan
Saat setitik rasa menetes membasahi palung jiwa yang ‘tak ku mengerti

Hingga putaran waktu berbaring lurus dihadapanku
Merayapi asa dan memeluk nadi erat
Mengajak ‘tuk berdansa ikuti getarnya
Resapi arti rasa itu

Diantara manis dan getir yang memandu
Dikala ku tahu rasa itu dia

Aku tertunduk dibatas keegoan
Kala Sang Penguasa Qolbu memapahku menuju hatinya
Sembari memetik dawai-dawai kepedihan
Memaksa ku ‘tuk menyimpannya rapat
Hingga terlansir dalam hakikat tentang ku
Saat rasa itu terajut dibatas tirai senja

Kini kulihat rumput halaman
Menggoyahkan pondasi harapan dengan pahamnya
Disaat emosi yang merajai reputasi terajut oleh kepedihan

Iring  rontahan mencabik dengan belatinya
Menghujam  raga dan menyelimuti  jiwa

Ditemani teriakan bibir yang membisu
Tandai tawa kekecewaan

Engkau tetap setia merangkulku
Mengajak ku sambangi pesisir singgah sanah
Dengan sepucuk harapan yang tergores didalam benak

Aku tebujur kaku dengan  nafas yang masih terjaga
Rebahkan jiwa dihadap Mu
Sedang qolbu  teteskan doa
Menyapaku digelapnya siang yang terbentang

Kini aku tahu, Engkau menemaniku
Menemani jurang sesal yang terngiang dihatiku

Dan biarkan  nada nada ini terbalut linangan perih
Yang teruntai indah , sembari berharap
Kau titipkan kata-kata cintaku padanya

Ya Rabb …
Biarkan rasa cinta ini tetap sebesar debu disiang yang terjelang
Agar tetap dapat ku genggam
Dan kujadikan dia sababiah menuju  jalanmu

Aku Tanpa Tuhan


Aku tanpa Tuhan
Hanyalah seonggok daging tak berguna
Hanyalah makhluk kecil tak berdaya
Hanyalah jiwa tanpa makna
Hanyalah rangkaian nama tanpa raga
Yang terasingkan di tengah padang pasir tanpa oase
Terbakar matahari di tengah hujan

Aku tanpa Tuhan
Tanpa ketulusan kasihNya
Takkan mampu ku berdiri kokoh
Takkan bisa ku menerka sejuknya embun
Takkan bisa ku melihat indahnya bianglala
Takkan bisa ku mendengar merdunya panggilanmu
Dan bahkan helai rambutku juga dia jaga

Aku tanpa Tuhan
Hanyalah debu ditengah luasnya dunia
Hanyalah sebuah cerita tanpa akhir
Hanyalah sebuah tokoh tanpa karakter
Hanyalah seberkas kertas usang dengan coretan kelam
Sendirian tanpa teman
Tanpa kedamaian


SUNYI

Ruang kehidupan yang begitu sesak, sunyi dan gelap
Lorong waktu yang terus berjalan
Kegelisahan dan ketakutanku bergelora
Keringatku mengalir deras
Tubuhku membeku
bagai berada diantara kumpulan sejuta balok es
Tuhan...
Kau dimana ? Aku lelah mencarimu

Kehidupanku bagai sudah diujung tanduk kematian
Waktu berlalu begitu saja
Dan aku terjebak terperangkap
Tak ada siapapun yang mempedulikanku
Kegelisahan dan ketakutanku menjadi
Tuhan.....
Kau dimana ? Aku lelah mencarimu

(Lilis Siti Sadiyah, 2012)
Juara III Lomba Membuat Puisi
antar SMA se-Jawa Barat



Ku Terjerat Barang Haram Karena Orangtuaku
Oleh: Indri Nurazizah Mustofa
(Juara III Lomba Cerpen)

Sinopsis: (Aku ingin ibuku yang dulu, aku ingin ayahku yang dulu dan aku ingin diriku yang duluaku ingin pula semuanya yang dulu) Coretanku dalam diary kecil ku, seolah luapan kekesalan itu telah memuncak.
Semenjak aku mendapatkan hidup yang baru di luar sana dan bergaul dengan orang-orang luar sana, kini aku sudah jarang masuk sekolah sehingga aku di DO (Droup Out) dan jarang tidur di rumah, dan di sana aku melakukan hal-hal yang buruk bersama teman-teman, di mulai dari merokok, kemudian minum minuman keras, sehingga aku terpengaruh oleh mereka sebagai pengguna narkotika.
Setelah aku sadar kemudian perempuan berjilbab itu bertanya akan kondisi ku Bagaimana kondisi mu sekarang? kenapa kamu bisa begini” dengan penuh kehangatan perempuan berwajah manis itu telah siap mendengarkan keluhanku.
Siapakah sosok perempuan berjilbab itu? Bidadari yang telah merubah karakter “aku”. J


Dinginnya malam telah menemaniku, hatiku yang sangat sedih ini teringat akan masa-masa lalu yang kini sudah lenyap begitu saja, aku ingin mendapatkan lagi kebahagiaan itu, canda tawa bersama keluarga yang menghiasi hidupku, yang pernah singgah dalam latar skenario yang Tuhan berikan. Namun, apa daya yang terjadi di dalam keluargaku ini? Sungguh sangat berbeda jauh dengan yang pernah ku kenal.
Oh,,,,, Tuhan mengapa hal ini harus terjadi pada diriku? Mungkin Tuhan menguji kesabaranku, untuk sekejap saja, ya mudah-mudahan begitu”. Gumamku dalam hati.
***
Berawal aku sering mendengar mereka bertengkar akhir-akhir ini. aku pun tak tahu apa masalahnya sehingga mereka sering bertengkar. Seminggu kemudian pertengkaran mereka semakin memuncak, semakin dan semakin memburuk. Bagaikan petir yang menggelegar digelapnya malam, akupun mendengar ada kata yang keluar dari mulut mereka yang membuatku begitu sangat sedih sekali, kata yang tak pernah aku kira sebelumnya, kata yang tak ada dalam diary mimpiku ‘Perceraian’, ya siapa yang duga aku berada dalam kondisi ini. Yang membuat aku tak bisa berkata apa-apa, aku tak mengerti dan terkadang hanya linangan air mata menjadi teman setia ku.
***
Semenjak hal itu terjadi kepada kedua orang tuaku, mereka sangatlah berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, di mulai dari sikap mereka akan berkurangnya perhatian mereka padaku, yang tadinya lebih merhatikan aku di bandingkan pekerjaannya, tapi malah sebaliknya mereka lebih mementingkan pekerjaannya, terutama mementingkan kehidupan  mereka yang baru.
Mengapa mereka lakukan hal itu, apa mungkin, mereka sudah tidak sayang dan cinta lagi padaku sebagai anaknya? Mereka sangatlah jahat padaku, mereka benar-benar sudah melupakan aku sebagai anaknya.
Pada saat hal itu terjadi, aku tinggal bersama ibu di rumahku yang dulu, dan aku tidak tahu ayah tinggal dimana. Pada   malam itu aku belum tidur, tak bisa memejamkan mata sesenti pun, karena aku menunggu ibu pulang dari tempat kerjanya. Satu jam kemudian ibu pulang dari tempat kerjanya pada waktu-waktu larut malam. Dengan membawa sejuta pertanyaan aku pun menghampiri ibu.
Bu baru pulang? kok pulangnya larut malam? pekerjaannya penuh yah?” tanya ku, sebagai bukti perhatianku padanya.
 Sudah tau baru pulang, nanya lagi. Yang namanya kerja pasti ada lemburnya jadi pulang larut malam.” Nada keras terlontar dari ibu, sungguh tak diduga. Hanya air mata yang berlinangan disekitar pipiku.
“Emang ibu barusan kerja apa?” aku pun berusaha untuk menanyakan kembali dengan sangat perhatian.
Memang anak harus tahu semua urusan orangtuanya? jawab ibu dengan lantang.
Aku pun terdiam, bagaikan seorang perawat yang dikomentar pasiennya karena merasa kecewa. Pergi menuju kamar sambil menahan air mata yang keluar. Dalam hati aku berbisik “mengapa ibu jawab pertanyaanku seperti itu, padahal ibu belum pernah menjawab pertanyaanku dengan cara begitu? Apa mungkin, ibu cape dengan pekerjaan hari ini, sehingga ibu menjawab pertanyaanku dengan cara begitu. Dan apa mungkin, yang dulunya aku manja, jadi ketika aku di perlakukan seperti itu aku belum terbiasa, aku belum siap”.
Oh Tuhan aku ingin hidupku yang duluAku kangen kata-kata ibu dan ayah yang membuatku tersenyum” Berontak ku dalam hati.
(Aku ingin ibuku yang dulu
Aku ingin ayahku yang dulu
Dan aku ingin diriku yang dulu
Dan aku ingin pula semuanya yang dulu) Coretanku dalam diary kecil ku, seolah luapan kekesalan itu telah memuncak.
Hari pertama masuk sekolah pun telah tiba, aku yang biasanya berangkat sekolah diantar ayah, kini telah menghilang dalam keseharianku dan tinggal menjadi sebuah kenangan. Kini aku berangkat sekolah hanya  seorang diri. Aku rindu ayah, ayah, ayah engkau ada dimana aku kangen ayah yang dulu. Semoga Tuhan bisa mempertemukan aku denganmu ayah di suatu saat nanti. Sesampai di sekolah, ternyata Tuhan mengabulkan do’aku, tidak ku sangka aku melihat mobil ayah di depan gerbang sekolah, aku heran mengapa ayah datang ke sekolah “apa mungkin ayah mau bertemu dengan aku”. (hati gembira). Kemudian aku menghampiri ayah sebelum sampai menghampiri mobilnya, ada yang keluar dari mobil ayah seorang anak SMK, ah ternyata dia Rina teman sekelasku. Aku heran mengapa Rina berangkat bersama ayah, mungkin ayah lewat kemudian bertemu Rina dan mengajaknya berangkat bersama, aku berusaha berpikiran positif.
Hari kedua dan ketiga aku masih saja melihat Rina diantar mobil ayah, tapi aku masih berprasangka baik terhadap Rina dan ayahmungkin hanya kebetulan saja ketemu di jalan. Aku tidak sempat bertanya kepada ayah karena menurutku waktu itu belum tepat.
Hari ke empatnya aku sudah berprasangka buruk karena masih saja melihat Rina diantar ayah, aku heran mengapa hampir setiap hari Rina di antar ayah, kemudian Rina masuk ke kelas akupun mengikuti di belakang nya, sesampai di kelas aku bertanya kepada Rina.
Rin tadi yang nganterin kamu siapa”? tanyaku keheranan, penuh tanda tanya.
Oh,, itu ayah baru ku.” jawab Rina dengan begitu santai.
Bagaikan disambar petir, aku terdiam. Mulutku seolah terkunci.
Emang kenapa ta?” Rina berbalik bertanya, hingga lamunan ku buyar entah kemana.
Mmmm,,,,, gak, gak papa tanya aja kok, ayah baru kamu yah.” jawab ku masih tidak percaya.
Hari ke lima nya  aku langsung bertanya kepada ayah, aku menghampirinya dengan wajah sangat kesal setelah Rina masuk ke kelas.
“Ayah, mengapa ayah mengantar Rina teman sekelasku, apa ayah sudah mempunyai istri baru? Tanya ku dengan memalingkan muka.
Ayah hanya terdiam kaya orang yang kebingungan
Ayah mengapa tak jawab pertanyaanku?” Intrograsiku tak henti, karena pertanyaan ku di lalaikan. Bagaikan sang polisi yang mengintrogasi seorang maling.
 Apa ayah salah berbuat beginiemang apa urusan mu?” Jawab ayah dengan mata melotot dan nada suara yang tinggi.
Aku pun tidak menjawab pertanyaan ayah dan langsung pergi dari hadapan ayah menuju ke sekolah diiringi air mata yang tidak bisa ku tahanmenetes dan membuat mata ku bengkak. Oh Tuhan mengapa orang tua ku sangatlah berbeda dengan yang dulu ku kenal? Yang dulu ku kenal kini hanya tinggal kenangan.
Setiap hari ibu sering pulang larut malam, sehingga aku hanya seorang diri di rumah tidak ada yang memerhatikan dan menemaniku. Aku jenuh dengan kehidupan aku ini, baik di rumah maupun di sekolah semuanya membosankan. Dan pada akhirnya aku melampiaskan kepadaa hal yang menurut orang negatif, dan penilain tersebut membuahkan hasil bahwa ku anak nakal di lingkungan sekolah. Beginilah aku hanya ingin di perlakukan layaknya seorang anak oleh kedua orang tuaku, tapi apa hasilnya orang tuaku tidak peduli padaku. Kemudian aku terus dan terus berbuat penyimpangan di sekolah  dan hasilnya sama saja tidak ada perubahan sedikitpun dari kedua orang tuaku, akupun mencoba berbuat penyimpangan untuk ke beberapa kalinya agar orang tuaku tahu apa yang ku inginkan darinya, aku mencoba pergi dari rumah beberapa minggu dan tidak masuk sekolah, tapi orang tuaku tidak mencari dimana aku berada, ibu hanya sms aku ”ta sekarang ibu tidak pulang kerumah, ibu ada tugas ke luar kota” sms singkat ibu. Kenapa ibu tidak menanyakan kabar aku dan dimana aku? Ibu dan ayah sangatlah jahat padaku, kalian tidak tahu apa yang anak mu ini inginkan dari kalian, kalian hanya mementingkan kehidupan dan kesenangan kalian sendiri.
Tuhan mengapa hidup ini sangatlah rumit bagiku
Tuhan mengapa Kau ciptakan aku di keluarga ini
Tuhan mengapa Kau bedakan aku dengan yang lainnya
Tuhan mengapa Kau ambil kebahagiaan ku yang dulu
Tuhan aku ingin hidupku yang dulu
Aku jenuh dengan kehidupanku ini, dan aku mencari hidup yang baru di luar sana akupun mendapatkan teman-teman baru di luar sana, dan teman-teman baru ku itu membuat hidup ku menjadi berubah drastis, di mulai dari sikap, perilaku, cara berkata, berpakaian dan lain sebagainya. Kini hidup ku berbeda dengan yang dulu ku kenal.
Semenjak aku mendapatkan hidup yang baru di luar sana dan bergaul dengan orang-orang luar sana, kini aku sudah jarang masuk sekolah sehingga aku di DO (Drouf Out) dan jarang tidur di rumah, dan di sana aku melakukan hal-hal yang buruk bersama teman-teman, di mulai dari merokok, kemudian minum minuman keras, sehingga aku terpengaruh oleh mereka sebagai pengguna narkotika.
Lama-lama uang tabunganku terkuras habis karena di pakai untuk membeli narkotika, kemudian aku minta di transfer pada ibu dan uang itu hanya untuk di pakai membeli narkotika lagi dan ibu hanya membeli uang secukupnya, tidak terasa uang pembirian ibu habis, karena aku kecanduan dan aku menjadi SAKAO, aku bingung harus memakai uang yang mana lagi untuk membeli obat-obatan itu lagi.
***
Dua bulan kemudian, setelah aku positif sebagai pengguna narkotika, aku sering sakit-sakitan, pada waktu itu aku tidak tahu aku sakit apa. Di mulai dari pikiran ku sudah rusak karena hanya memikirkan yang aneh-aneh, perasaanku aneh, aku tidak tahu ada apa dengan perasaanku ini, suasana hatiku kacau tidak karuan dan perilaku aku tidak baik, pemikiranku semakin lambat, emosiku semakin tinggi, perasaan cemas, badan menjadi kurus, sehingga seluruh badanku semuanya sakit.
Beberapa minggu kemudian karena uangku sudah habis, aku di tinggalkan di lokasi yang sering dipakai nongkrong aku dan teman-temanku. Aku berjalan di sepanjang jalan dan yang aku pikirkan hanyalah rasa sakit yang tidak tertahankan tidak terasa tubuhku menyerah di suatu tempat yang tidak ku kenal di sanalah aku tidak sadarksan diri, setelah sadar ternyata aku sudah ada di atas kasur yang tidak terlalu mewah. Orang yang menolong itu terlahir di keluarga yang sederhana, setelah aku sadar kemudian perempuan berjilbab itu bertanya akan kondisi ku Bagaimana kondisi mu sekarang? kenapa kamu bisa begini” dengan penuh kehangatan perempuan berwajah manis itu telah siap mendengarkan keluhanku. Akupun tidak menjawab pertanyaan dia, ada raut kekecewaan karena aku tak menjawab pertanyaannya, namun senyumnya membuatku tak terlalu merasa bersalah. Setelah beberapa minggu kemudian perempuan yang belum ku ketahui namanya itu bertanya lagi padaku dan aku menceritakn kronologinya dari awal sampai saat ini. Setelah aku selesai menceritakannya, aku mendapatkan masukan dari perempuan itu, meskipun dia terlahir dari keluarga sederhana tetapi dia anak yang sabar dalam menghadapi hidupnya dan dia  anak yang sangat shalehah. Aku malu padanya karena dia tidak seperti aku, aku yang baru mendapatkan cobaan seperti ini sudah menyerah.
Aku berbuat begini hanya menginginkan satu hal dari ayah dan ibu yaitu, “aku ingin diperlakukan layaknya seorang anak yang membutuhkan perhatian.” Aku hanya menginginkan itu saja tidak lebih dari itu.
Beberapa tahun kemudian, setelah aku sembuh. Aku menyadarinya akan satu hal bahwa diriku terperangkap dalam dunia gelap. Walau sampai saat ini aku masih menyisakan rasa kekesalanku dengan beranggapan bahwa ku sakit, dan terperangkap dalam dunia narkotika karena kedua orangtua ku. Mungkin inilah keegoisanku yang tak bisa aku lupakan.
***

Biodata
Nama   : Indri Nurazizah Mustofa
Kelas    : X-C 
Alamat  : Kp. Babakan sirna rt/rw 01/15. Kec.Pangalengan Kab. Bandung
Hobi     Membaca
Cita-cita Bidan
No HP   : 08997826291


PENGUMUMAN PESERTA PERLOMBAAN

Seluruh Peserta yang mengirimkan naskah cerpen dan puisi berjumlah 15 naskah, diantaranya 10 naskah puisi dan 5 naskah cerpen.

Lomba Membuat Cerpen

Juara I     Indra Muhammad Seno  (SMA Guna Dharma)
Juara II    Yudi Purwanto              (MAN 2 Bandung)
Juara III   Indri Nurazizah M         (SMK Bhakti Kencana)

Lomba Membuat Puisi

Juara I     Indra Muhammad Seno  (SMA Guna Dharma)
Juara II    Jeni Julianti                    (MA Bina Insani Cisarua)
Juara III   Lilis Siti Sadiyah             (SMKN 1 Bandung)

Selamat kepada para pemenang, bagi para pemenang yang belum mengambil hadiah bisa menghubungi Panitia, CP: 085721218029 (Sandi)/085721577481 (Fia).
Bagi para peserta yang belum berhasil, jangan berhenti untuk berkarya.

*Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat,,:)

Kamis, 29 November 2012


LOMBA MEMBUAT CERPEN & PUISI ANTAR SMA SE-JAWA BARAT


Lomba Cerpen
1. lomba dibuka tanggal 30 November- 08 Desember 2012 (ketik Nama_Cerpen_Asal SMA_No Hp) kirim ke 085721577481 (Fia)
2. tema "Remaja dan Kesehatan".
3. setiap peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) naskah
4. naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang benar, sesuai EYD, indah (literer) dan komunikatif serta bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasi dalam bentuk apapun. (bahasa daerah/tidak baku  hanya boleh dalam dialog).
5. peserta harus mentrasfer biaya lomba Rp. 15.000,- ke bank BRI 075001022407536 a/n Syifa Jauhar Nafisah. setelah transfer, segera konfirmasi ke 085720232442 (Syifa).
6. ditulis diatas kertas ukuran kuarto (A-4), spasi 1,5, font 12 (times new roman), margin kiri kanan mak 5 cm.
7. panjang naskah antara 5-10 halaman, disertai: cerita sinopsis maksimal setengah halaman, biodata penulis, scan ktp/kartu pelajar dan scan bukti transfer.
8. naskah yang dilombakan dikirim ke email: tasawufpsikoterapi@ymail.com paling lambat hari minggu, 09 Desember 2012 pukul 16.00 WIB


Lomba Puisi
1. lomba dibuka tanggal 30 November- 08 Desember 2012 (ketik Nama_Puisi_Asal SMA_No Hp) kirim ke 085721577481 (Fia)
2. tema: "Aku dan Tuhan"
3. setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) puisi. (maksimal 3 puisi)
4. puisi ditulis dalam bahasa Indonesia yang benar, sesuai EYD, indah (literer) dan bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasi dalam bentuk apapun.
5. peserta harus mentrasfer biaya lomba Rp. 15.000,- ke bank BRI 075001022407536 a/n Syifa Jauhar Nafisah. setelah transfer, segera konfirmasi ke 085720232442 (Syifa).
6. panjang puisi antara 1-3 halaman, disertai: biodata peserta, scan ktp/kartu pelajar dan scan bukti pembayaran.
7. naskah yang dilombakan dikirim ke email: tasawufpsikoterapi@ymail.com paling lambat hari minggu, 09 Desember 2012 pukul 16.00 WIB


Hasil Lomba:
Pemenang lomba cerpen dan puisi diumumkan pada saat acara puncak "Tapsi Spiritual Week 2012" pada hari Senin, 10 Desember 2012 pukul 14.00 WIB di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.
Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Naskah yang dilombakan menjadi milik panitia dengan hak cipta pengarang.

Pemenang Lomba Puisi dan Cerpen:
juara 1 : trophy, sertifikat, uang pembinaan, dan bingkisan dari sponsor.
juara 2 : trophy, sertifikat dan bingkisan dari sponsor.
juara 3 : trophy, sertifikat dan bingkisan dari sponsor.